RMI PB NU dan UIN Sunan Kalijaga, bersama FITK, dan CIESA Gelar Seminar: Transformasi Pesantren

RMI PB NU dan UIN Sunan Kalijaga, bersama FITK, dan CIESA Gelar Seminar: Transformasi Pesantren

Yogyakarta – Pada Rabu Kliwon, 8 Januari 2024, telah berlangsung Seminar Nasional dan Kongres Pendidikan Nahdlatul Ulama dengan tema "Transformasi Pesantren: Merawat Spiritualitas untuk Kemajuan Pendidikan Pesantren". Kegiatan ini diselenggarakan di Convention Hall, Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara RMI PBNU, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan RMI PWNU DIY, dengan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga sebagai penanggung jawab utama.

Seminar ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pengasuh pesantren, pengurus RMI PBNU, PWNU, dan PCNU dari seluruh Indonesia, hingga akademisi, mahasiswa, dosen, serta perwakilan dari Kementerian Agama. Sejumlah tokoh penting turut memberikan kontribusi dalam acara ini, di antaranya KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, yang memberikan keynote speech dan meluncurkan "Digdaya Pesantren"; KH. Mas'ud Masduki, Ketua PWNU DIY; KH. Muhammad Nilzam Yahya, Ketua RMI NU DIY; Prof. Noorhaidi, S.Ag., MA, M.Phil., Ph.D., Rektor UIN Sunan Kalijaga; KH. Hodri Arief, Ketua RMI PBNU; Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd., Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga; Prof. Dr. Imam Machali, S.Pd.I., M.Pd., Direktur Center for Islamic Education in Southeast Asia; serta perwakilan dari Kanwil Kementerian Agama DIY.

Acara ini diawali dengan sambutan dari pengurus pusat RMI NU yang menekankan bahwa seminar ini merupakan rangkaian dari persiapan menuju Kongres Pendidikan Nahdlatul Ulama yang akan digelar pada 21-22 Januari 2024 di Jakarta. Sambutan tersebut juga menyoroti peran pesantren sebagai episentrum peradaban Islam di Indonesia dan memaparkan lima isu strategis dalam pengembangan pesantren, yaitu transformasi pengasuhan dan kurikulum, transformasi sumber daya manusia, penguatan kelembagaan dan kemandirian pesantren, digitalisasi dan data pesantren, serta peningkatan infrastruktur pesantren. Hasil diskusi seminar ini diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan dalam Kongres Pendidikan mendatang.

Keynote speech pertama disampaikan oleh Prof. Noorhaidi, Rektor UIN Sunan Kalijaga, yang menyatakan kebanggaan atas kolaborasi antara UIN dan pesantren. Ia menegaskan bahwa sejarah perkembangan UIN tidak terlepas dari kontribusi para kiai pesantren. Dalam pidatonya, Prof. Noorhaidi juga mengumumkan rencana pendirian pusat studi khusus pesantren yang dinamakan "Pusat Kajian Pesantren Martin van Bruinessen". Ia menambahkan, "Semoga UIN dapat menjadi batu loncatan bagi para santri untuk meraih sukses di dunia akademik." Selanjutnya, KH. Yahya Cholil Staquf menyampaikan pidato yang mendalam tentang dimensi sosial-historis pesantren. Beliau mengulas tantangan marginalisasi pesantren akibat kolonialisme Eropa dan bagaimana pesantren berhasil beradaptasi dengan sistem modern. KH. Yahya menekankan perlunya pesantren menghilangkan mental blok terhadap perubahan agar dapat berintegrasi dalam sistem global. Ia juga memaparkan tiga klaster utama yang harus dihadapi pesantren, yaitu kelembagaan pendidikan pesantren, peran komunitas pesantren, dan hubungan pesantren dengan NU.

Salah satu momen penting dalam seminar ini adalah peluncuran layanan digital dan data pesantren yang dinamakan "Digdaya Pesantren". Peluncuran dilakukan secara simbolis oleh KH. Yahya Cholil Staquf dengan pemukulan gong sebanyak sembilan kali, menandakan semangat baru dalam digitalisasi pesantren untuk mendukung transformasi dan pengelolaan data yang lebih baik. Acara diakhiri dengan harapan besar agar pesantren dapat terus berkontribusi dalam dunia pendidikan, baik secara tradisional maupun modern. Kerja sama antara UIN Sunan Kalijaga, PBNU, dan pesantren diharapkan dapat terus berlanjut untuk mendukung kemajuan pendidikan nasional. Dengan berakhirnya seminar ini, diharapkan rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi panduan strategis dalam pengembangan pesantren menuju pendidikan yang lebih maju dan terintegrasi secara global.