CIESA UIN SUNAN KALIJAGA SELENGGARAKAN SHORT COURSE PERDANA “UNDERSTANDING ISLAMIC EDUCATION IN SOUTHEAST ASIA”
CIESA UIN Sunan Kalijaga Selenggarakan Short Course Perdana “Understanding Islamic Education in Southeast Asia”
Pusat Studi Pendidikan Islam Asia Tenggara (Center for Islamic Education in Southeast Asia/CIESA) Pascasarjana Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Short Course #1 dengan tema “Understanding Islamic Education in Southeast Asia: Sejarah, Jaringan, dan Metode Memahami Pendidikan Islam di Kawasan Asia Tenggara” pada Rabu, 9 September 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang 205 CIESA Pascasarjana FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menjadi bagian dari komitmen CIESA dalam memperkuat kajian pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara melalui pendekatan historis, sosial, budaya, dan pendidikan. Kegiatan ini menghadirkan para akademisi dan peneliti yang memiliki perhatian terhadap studi Islam, pendidikan, serta sejarah intelektual kawasan Asia Tenggara.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd. menyampaikan bahwa keberadaan CIESA merupakan langkah strategis bagi FITK UIN Sunan Kalijaga untuk memperkuat identitas akademiknya dalam bidang pendidikan Islam. Menurutnya, pendidikan Islam Asia Tenggara merupakan ruang penelitian yang luas dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan oleh mahasiswa maupun akademisi.
Beliau menegaskan bahwa bidang kajian ini membutuhkan perhatian serius karena masih terdapat banyak ruang penelitian yang belum banyak dikaji. Oleh karena itu, CIESA diharapkan tidak hanya menjadi pusat kegiatan akademik, tetapi juga menjadi salah satu representasi identitas akademik FITK melalui pengembangan riset, publikasi, database penelitian, serta jejaring akademik dengan berbagai lembaga eksternal.
“Dalam dua tahun ke depan, perlu ada roadmap penelitian yang jelas sehingga CIESA dapat memiliki fokus kajian yang kuat dan menghasilkan riset secara berkelanjutan,” ungkapnya. Penguatan sumber daya manusia, infrastruktur penelitian, serta kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam pengembangan CIESA ke depan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, CIESA juga menghadirkan Bapak Achmad Fikri, S.Ag., seorang peneliti bidang naskah Asia Tenggara, yang memberikan pengayaan wawasan mengenai sejarah intelektual, aksara, dan warisan literasi Nusantara. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa pemahaman terhadap Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang Nusantara yang memiliki jaringan keilmuan, kebudayaan, dan tradisi literasi yang luas.
Beliau menyoroti pentingnya kajian terhadap aksara lokal, termasuk aksara Jawi, sebagai bagian dari identitas intelektual masyarakat Asia Tenggara. Menurutnya, berbagai naskah Nusantara dari Sabang hingga Merauke memiliki nilai akademik yang tinggi, namun masih membutuhkan perhatian lebih besar dalam penelitian kontemporer.
“Huruf Jawi merupakan bagian dari identitas Nusantara. Kita perlu memahami kembali diksi dan warisan intelektual lokal agar tidak kehilangan sejarah pengetahuan yang telah berkembang di kawasan ini,” jelasnya.
Pada sesi utama, Prof. Dr. Imam Machali, S.Pd.I., M.Pd. menyampaikan materi mengenai studi kawasan Asia Tenggara dan pentingnya memahami perkembangan pendidikan Islam dalam konteks global. Beliau menjelaskan bahwa CIESA hadir untuk memberikan perspektif baru dalam penelitian pendidikan Islam yang selama ini masih banyak berfokus pada konteks lokal.
Menurutnya, pendidikan Islam di Asia Tenggara memiliki karakteristik yang unik karena berkembang dalam berbagai kondisi sosial, budaya, dan politik. Keberagaman tersebut menjadi peluang besar untuk dikaji dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun publikasi ilmiah.
“Islam Asia Tenggara memiliki kontribusi penting dalam studi Islam global. Kawasan ini bukan hanya menjadi penerima pengaruh Islam, tetapi juga menjadi aktor yang membentuk perkembangan Islam dunia,” ujar Prof. Imam Machali.
Pada sesi berikutnya, Dr. Iffah Khoiriyatul Muyassarah, M.Pd. menyampaikan materi tentang signifikansi Islam Asia Tenggara dalam studi Islam global. Ia menjelaskan bahwa Islam Asia Tenggara menunjukkan hubungan antara universalitas ajaran Islam, jaringan keilmuan lintas wilayah, serta kreativitas masyarakat lokal dalam menerjemahkan nilai-nilai Islam.
Menurutnya, terdapat beberapa poin penting dalam memahami Islam Asia Tenggara, yaitu bahwa kawasan ini merupakan aktor pembentuk Islam global, lokalitas menjadi ruang penerjemahan ajaran Islam, jaringan ulama dan pendidikan membangun otoritas keilmuan, serta lembaga pendidikan Islam menjadi ruang produksi ilmu, identitas, dan mobilitas sosial.
Seluruh rangkaian kegiatan Short Course #1 CIESA dipandu oleh Whan Nurdiana, S.Pd. sebagai moderator yang mengarahkan jalannya diskusi serta dialog akademik antara narasumber dan peserta.
Kegiatan Short Course #1 CIESA ini diharapkan menjadi awal dari rangkaian program akademik yang dilakukan secara berkelanjutan untuk memperkuat kajian pendidikan Islam Asia Tenggara. Melalui kegiatan ini, CIESA berkomitmen membangun jejaring akademik, memperluas wawasan mahasiswa dan peneliti, serta mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru yang berkontribusi terhadap perkembangan studi Islam global. (DQ)